Groupies, Baik atau Buruk?
Saat sebuah grup band mulai dibentuk, untuk memperoleh kesuksesan dibutuhkan teknik bermain musik yang baik, lagu yang indah, dan tidak kalah pentingnya penggemar yang mau mendengarkan. Tapi saat penggemar itu sudah berlebihan konteks dan namanya sudah menjadi lain, yaitu Groupies.
Groupies, fanatisme yang berlebihan terhadap sosok idolanya. Fenomena yang sedang berkembang saat ini dikalangan remaja. Remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri dan jiwa yang dimiliki masih labil sehingga remaja mencari sosok seorang idola untuk menjadi panutannya. Disitulah groupies bisa berkembang tumbuh dalam pergaulan sehari-hari. Remaja akan melakukan apapun untuk dekat bahkan memiliki idolanya. Mereka akan menguntit idolanya kemanapun mereka pergi. Rela untuk “dipermainkan” bahkan mau sampai ditiduri oleh idolanya.
Mengapa groupies bisa berkembang dengan pesat pada wanita saja. Sebenarnya fenomena ini baik atau buruk. Lalu bagaimana dengan artisnya sendiri apakah mereka dirugikan dengan berkembangnya fenomena ini.
Bagaimana pendapat para ahli tentang hal ini. Berikut wawancara Agung Ayu Galuh, dengan dosen Psikologi Klinis Universitas Padjadjaran,
Drs. Achmad Djunaidi, M.Si. di fakultas Psikologi Unpad, Jatinangor, Sumedang, Jabar. (12/12)
Berikut penuturannya:
Bagi saya tidak apa-apa, asal bergeraknya dalam hal yang positif. Kenapa tidak apa-apa, karena untuk saat ini sepertinya fanatisme sedang diperlukan supaya orang menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan.
Yang sekarang diperlukan adalah komitmen terhadap apa yang sedang mereka perjuangkan. Groupies itukan ada positif dan negatifnya. Positifnya, kalau dia punya arah yang jelas, misalnya yang bersifat kearah pengembangan diri. Diperlukan komitmen. Tapi, kalau terarah pada kelompok-kelompok yang eksklusif. Hanya kepentingan pribadi, memang fanatisme ini menjadi bahaya.
Karena wanita merasa lemah, sehingga dia mencari tokoh-tokoh dan tokoh-tokoh ini dia anggap menjadi panutannya. Sehingga dia menganggap ada dukungan. Dukungan untuk maju.
Wanitakan suka memperjuangkan persamaan hak. Walaupun sebenarnya sudah. Tapi yang komitmennya rendah juga kebanyakan wanita. Contoh, saat wanita menyerukan yang penting adalah kesetaraan, jadi laki-laki dan wanita setara. Kesetaraan yang diinginkan adalah kesamaan hak.
Tergantung orang melihatnya. Semua perilaku itu ada sisi baik dan buruknya. Bagaimana perilaku dilihat dan diamana itu dilakukan.
Saya tidak tahu persis tapi, itu bisa dilihat positif atau negatif, tergantung arahnya. Jika fenomenanya menjadi kelingkungan yang eksklusif, itu menjadi tidak baik. Jika fenomena groupies itu menjadi suatu fenomena yang memasyarakat, itu menjadi baik. Jadi, tergantung tujuannya.
Groupies tumbuh dari kalangan remaja umur 18-an sampai dewasa, dewasa muda groupies itu muncul kuat.
Karena sudah punya tujuan yang jelas, saat remaja tujuannya belum jelas hanya untuk hura-hura, kalau dewasa muda itu tujuannya sudah jelas.
Kalau dari umur, apakah ada umur tertentu groupies itu?
Kalau orang-orang sudah merasa memerlukan tokoh. Artinya kalau usia itu 8-12 tahun itu sudah mulai muncul. Seperti keluarga, paman atau tantenya. Seiring waktu itu akan berkembang. Di masa remaja sudah dianggap cukup kuat, sudah mulai mengidolakan tokoh musik, tokoh olahraga, bintang film dan banyak lagi. Sudah mulai tokoh terkenal yang diidolakan. Ada yang kadarnya biasa saja ada yang sampai ekstrem. Idolanya harus ada di kehidupannya, harus menjadi milik saya. Itu yang sudah berlebihan.
Hanya beda kadar saja menurut saya. Kalau fans, saya mengidolakan tapi kadarnya tidak terlalu berlebihan. Tidak harus idolanya harus menjadi miliknya. Kalau fans itu sudah tahu batasannya. Tidak berlebihan.
Kemungkinan, sangking ingin dekat dengan idolanya, jadi dia berusaha sekuat tenaga untuk dekat. Malah dalam kondisi ekstrem, dia merasa bahwa idolanya, dia yang miliki. Sehingga bagi yang diidolakan merasa terganggu. Belum tentu mereka saling mengenal, malah kadang-kadang memang tidak mengenal, itu yang membuat sang idolanya merasa terganggu. Itu yang saya bilang sudah berlebihan. Itu sudah termasuk kondisi yang tidak wajar. Tidak dalam suatu kondisi yang mendukung sang idola, malah bisa menghambat sang idola.
Kalau seperti kasus John Lenon itu bagaimana menurut Anda?
Saking mengidolakan dan dalam pikirannya idolanya itu sudah rusak, sudah tidak sesuai dengan pikirannya. Idoalnya sudah berkhianat. Kamu harus sesuai dengan pikiran saya. Seperti juga kasusnya Mahatma Gandhi yang menceritakan tentang kesamaan yang dimata pengagumnya sudah tidak sesuai.
Ya, sudah berubah. Sudah tidak sesuai dengan pikirannya. Kamu harus kembali sesuai dengan pikiran saya. Kalau tidak mau atau tidak bisa lebih baik kamu mati saja.
Kalau bicara tentang hati, berarti hatinya sudah tertutup?
Daripada saya harus merubah idola saya lebih baik kamu mati saja. Itu juga sering terjadi pada suami istri. Bila suami atau istrinya sudah tidak tidak sesuai dengan pikiran masing-masing maka lebih baik mati saja. Sehingga sering terjadi kasus pembunuhan antara suami istri. Tetapi kenangan masa lalunya tetap ada dipikiran masing-masing.
Pasti, itu terkait dengan pergaulan. Tapi mungkin juga itu tidak tumbuh dalam kelompok. Mungkin juga dia tidak kenal tapi mengidolakan. Jadi dia merasa saya pemujanya, tidak boleh terabaikan.
Salah satunya rasa memiliki. Yang lainnya juga bukan hanya rasa memiliki. Saya harus kuasai, sang idola itu tidak boleh menyimpang dari apa yang saya pikirkan.
Ya, kalau yang sudah ekstrem sampai rasa egois muncul. Bukan hanya untuk kemajuan bersama tapi sampai merasa tidak perduli, sangat egois.
Ya itu, yang penting saya puas. Padahal dalam kelompok itu kepuasan bersama. Misalkan saya tidak merasa puas, tapi saya bisa menerima. Kalau dalam tingkatan ekstrem itu sampai tidak bisa menerima kekecewaan itu.
Apakah groupies bisa dikatakan seperti pemakai narkoba yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan narkoba tersebut?
Tidak bisa, itu berbeda. Kalau narkoba lebih karena pengaruh zat adiktif. Kalau ini kekacauan dalam pikiran tanpa pengaruh unsur-unsur kimiawi dalam tubuh. Jadi mindsetnya yang rusak.
Apa yang saya pikir, saya rasa dan yang harus saya lakukan, padahal itu orang lain.
Menurut saya itu tidak baik, tidak pada tempatnya. Menjadi rasa memiliki yang berlebihan. Menurut saya salah.
Dipikiran mereka dia sudah milik saya, kita sudah saling memiliki.
Itu sepanjang jaman akan tetap ada, itu termasuk perilaku-perilaku orang dalam mengidolakan seseorang ada sesuatu yang berlebih. Sebenarnya itu sepanjang jaman, hanya mungkin pemberitaannya saja yang tidak pernah muncul.
Ada groupies yang masih memuja idolanya, bahkan ketika idolanya sudah meninggal. Seperti melakukan ziarah kemakam idolanya. Bagaimana pendapat Anda?
Karena merasa itu sudah menajadi bagian dari diri saya. Dia tidak bisa menerima kalau idolanya sudah meniggal. Walaupun sudah meninggal, dia tetap hidup, hidup dalam hati saya. Lebih mudah dia datang kekuburannya. Hatinya masih terhadap idolanya yang sudah meninggal. Itu bagi saya juga sudah berlebihan.
Tidak selalu dibawah sadar. Mungkin juga dia sadar. Tapi hanya tidak bisa menghilangkan idolanya dari pikirannya. Seperti kita kalau sudah jatuh cinta, walaupun dia sudah menghilang tapi tetap ada dalam pikiran kita. Masih terbayang-bayang
Pengidolaannya ya, ada unsur groupiesnya juga. Tapi inikan dia menginginkan anaknya mempunyai kelebihan. Sudah banyak kasus seperti itu. Seperti, dia menginginkan anaknya seperti Muhammad Ali, jadi dia memberikan nama kepada anaknya dengan nama Muhammad Ali.
Tergantung artisnya, kalau dia bisa memanfaatkan dia tidak akan merasa rugi. Dia merasa senang karena ada tempat untuk “bersenang-senang”. Kalau groupiesnya sampai membuntuti, nah itu artis akan merasa terganggu karena privasinya hilang.
Segeralah berkonsultasi atau kalau bisa terapi jika perlu agar berkurang groupies itu. Karena itu sudah termasuk gangguan psikis.
Setelah membaca tulisan di atas tolong komentarnya ya.......
Makasih.:)
-galuh-
